Aku Bersalaman, Maka Aku Ada

oleh: dana satriya

Pusat,15-03-2010

“AKU BERSALAMAN, MAKA AKU ADA”

 

Kita sering bahkan selalu bersalaman. Kita bersalaman ketika bertemu. Kita juga bersalaman ketika berpisah. Dengan kata lain, bersalaman menandai perjumpaan dan juga perpisahan. Ini bisa diucapkan dalam kata-kata maupun tindakan seperti berjabatan tangan. Dalam kebiasaan di tempat lain bersalaman juga diungkapkan lewat berpelukan atau berciuman di pipi.

Karena sangat terbiasa, kerap hal ini kita anggap sebagai hal yang normal dan biasa-biasa saja. Tetapi apakah bersalaman itu memang hal biasa tanpa makna? Dalam ruangan situs KMKI ini, saya coba merefleksikan makna bersalaman dalam perjumpaan meskipun akibat yang ada tampak sama juga untuk bersalaman ketika berpisah.

Delapan tahun lalu ketika masih bertugas sebagai misionaris di paroki Santu Paulus, Mochudi di Botswana, bersama sejumlah umat, biasanya kami mengunjungi orang-orang sakit paling kurang dua kali seminggu. Kunjungan itu untuk semua orang sakit tanpa membedakan agama dan keyakinan. Kunjungan mingguan itu memang masuk akal. Maklum, saat itu cukup banyak penderita HIV/AIDS di wilayah itu.

Suatu hari, bersama empat orang umat, kami menghabiskan sehari penuh untuk kunjungan yang sama. Sekitar jam tiga sore kami memasuki sebuah rumah. Dari kondisi rumah, cukup jelas bahwa keluarga itu pastilah keluarga yang lumayan aman secara ekonomis. Setelah umat yang ikut bersama saya tadi menjelaskan maksud kunjungan itu kepada tuan rumah, kami pun dihantar keluar untuk mengunjungi yang sakit. Saya betul kaget, ketika melihat bahwa yang sakit itu, seorang pemuda yang baru berusia 20-an, ternyata ditempatkan di tempat terpisah dari rumah utama di sebuah pondok kecil beratapkan rerumputan seperti layaknya rumah-rumah tradisional di wilayah itu. Ketika masuk, kami bersalaman. Tanpa melihat tindakan salaman sebagai hal yang luar biasa, saya pun mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan. Ternyata bagi pemuda yang sakit itu, jabatan tangan tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa. Saya menangkap hal ini ketika sambil menangis, si pemuda itu pun berkata, “Saya tidak ingat lagi kapan terakhir kali orang berjabatan tangan dengan saya”.

Pengalaman kecil ini menyadarkan saya, betapa kata dan tindakan kita berakibat begitu besar terhadap hidup orang lain. Betapa kata-kata dan jabatan tangan yang kita buat, ternyata bisa menyentuh hati orang dan bahkan memberi kedamaian.

Pada panggung politik internasional, saya teringat akan satu jabatan tangan sangat bersejarah di tahun 1993 antara Yitzhak Rabin, perdana menteri Israel dan Yasser Arafat, pemimpin Palestina waktu itu. Sampai hari ini, konflik Israel dan Palestina masih terus saja berlangsung. Jabatan tangan terkenal itu memang sangat simbolis untuk banyak orang. Tetapi saat itu, ketika seluruh dunia menyaksikan jabatan tangan dua pemimpin itu di layar televisi, ada harapan bahwa para pemimpin di wilayah itu akan duduk di meja dialog untuk menyelesaikan konflik yang menggerogoti wilayah itu. Sayang sekali bahwa jabatan tangan itu kemudian tidak mempunyai efek berarti untuk penyelesaian konflik Israel-Palestina karena tertutupnya pintu dialog dan diplomasi.

Hemat saya, bersalaman atau berjabatan-tangan itu seperti password atau Personal Identification Number (PIN) atau kunci. Kita membutuhkan password untuk mendapatkan akses ke e-mail kita atau berbagai jenis account. Kita membutuhkan PIN untuk mendapatkan akses untuk kartu bank. Sama seperti password dan PIN, bersalaman itu mempunyai fungsi yang sama karena memberikan kita akses kepada percakapan. Begitu kita bersalaman dan menanyakan kabar satu sama lain, percapakan dimulai. Seperti kunci, bersalaman membuka ruang hubungan kita dengan orang lain dan memampukan kita untuk untuk kemudian menyampaikan pesan-pesan kita. Bersalaman atau berjabatan-tangan membawa kita pada sebuah dunia baru yakni dunia komunikasi dengan orang lain.

Sebentar lagi kita akan merayakan Paskah. Ternyata salam itu merupakan hal sangat hakiki dalam pengalaman paskah. Dalam masa paskah, kita biasa mendengarkan dua frase sangat penting dalam kata-kata Yesus yaknidamai sejahtera bagi kamudanjangan takut”. Kedua frase ini berhubungan erat karena berisikan salam dan juga pesan. Dengan mengucapkan salam dalam ucapandamai sejahtera bagi kamu”, Yesus membuka ruang untuk para murid dan sahabat-sahabatNya. Dalam ruangan itu, sebuah hubungan baru terbentuk. Hubungan itu memberikan identitas baru kepada para murid dan sahabatNya. Kalau mati-Nya Yesus di kayu salib memberikan identitas bahwa mereka adalah mantan murid seorang nabi besar, kini dengan kebangkitanNya, para murid ini mendapatkan identitas baru yakni para murid nabi agung yang bangkit. Itu berarti, salam itu membangkitkan dan memberi roh, semangat dan identitas baru untuk para murid.

Begitu juga frase kedua yaknijangan takut”. Presiden AS Franklin D. Roosevelt pernah berkata bahwasatu-satunya hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri”. Ketakutan biasa membuat orang mengurung dan mengunci diri. Ketakutan mematikan kreatifitas dan memenjarakan imajinasi kreatif. Kemajuan hampir sulit dicapai kalau orang dikuasai ketakutan. Ketakutan itu seperti ruang gelap tanpa cahaya. Ingat misalnya dalam kisah bagaimana para murid Yesus suka mengunci diri karena mereka takut akan orang Yahudi setelah penangkapan dan kematian Yesus. Salam dan peneguhan Yesus agar mereka tidak takut ternyata menembusi tembok ketakutan. Dengan menerima salam Yesus, para murid ini dibebaskan dari rasa takut. Mereka baru berani muncul ke publik setelah kekuatan ketakutan ini dipatahkan dengan menerima salam damai Yesus.

Perlu dicatat juga bahwa kekuatan salam tergantung pula dari kemauan baik antara orang yang memberi dan menerima salam. Mungkin uluran jabatan tangan kita biasa-biasa saja. Mungkin kita merasakannya sebagai hal normal yang biasa kita lakukan. Tetapi dengan tindakan sederhana itu, kita justru membuka ruang dan jalan untuk masuk dalam hidup orang lain. Terkadang orang mengirimkan pesan seperti “you have made my day”. Hal sederhana yang kita buat bisa jadi memberi kekuatan baru agar orang lain bangkit. Kita yang memberi salam atau mengulurkan tangan dalam jabatan tangan pun menimba kekuatan yang sama. Karena dengan tindakan itu, kita mau masuk dalam hubungan dengan orang lain sekaligus menegaskan bahwa adanya kita tidak terlepas dari adanya orang lain. Mungkin bisa dikatakan sedikit filosofis bahwaaku bersalaman, maka aku ada”. Artinya, keterbukaan saya membuat saya dipahami tetapi juga memungkin saya untuk memahami serta memberi hidup baru untuk orang lain.

Ibu Teresa pernah berkata, “Ketika seorang miskin mati karena lapar, itu terjadi bukan karena Tuhan tidak memperhatikannya. Itu terjadi karena anda dan saya tidak ingin memberikan kepada orang itu apa yang dia butuhkan.” Mungkin kita pun bisa berkata, “Ketika orang merasa terasing atau mengunci dirinya dalam kesendirian, itu bukan karena kekuatan ilahi tidak menjamahnya. Itu boleh jadi terjadi karena kita tidak membuka ruang baginya dalam kata-kata dan jabatan tangan damai kita”.

 

Gabriel Faimau

Bristol, 15 Maret 2010.