“AKU
BERSALAMAN, MAKA AKU ADA”
Kita sering bahkan selalu
bersalaman. Kita bersalaman ketika bertemu. Kita juga
bersalaman ketika berpisah. Dengan kata lain, bersalaman
menandai perjumpaan dan juga perpisahan.
Ini bisa diucapkan dalam kata-kata maupun tindakan seperti berjabatan tangan. Dalam kebiasaan di tempat
lain bersalaman juga diungkapkan lewat berpelukan atau berciuman di pipi.
Karena
sangat terbiasa, kerap hal ini
kita anggap sebagai hal yang normal dan biasa-biasa saja. Tetapi apakah
bersalaman itu memang hal biasa
tanpa makna? Dalam ruangan situs
KMKI ini, saya coba merefleksikan makna bersalaman dalam perjumpaan meskipun akibat yang ada tampak sama juga untuk bersalaman ketika berpisah.
Delapan
tahun lalu ketika masih bertugas
sebagai misionaris di paroki Santu
Paulus, Mochudi di Botswana, bersama sejumlah umat, biasanya kami mengunjungi
orang-orang sakit paling kurang dua kali seminggu. Kunjungan itu
untuk semua orang sakit tanpa
membedakan agama dan keyakinan. Kunjungan mingguan itu memang masuk akal.
Maklum, saat itu cukup
banyak penderita HIV/AIDS di wilayah itu.
Suatu hari, bersama empat
orang umat, kami menghabiskan sehari penuh untuk
kunjungan yang sama.
Sekitar jam tiga sore kami memasuki sebuah
rumah. Dari kondisi
rumah, cukup jelas bahwa keluarga
itu pastilah keluarga yang lumayan aman secara ekonomis.
Setelah umat yang ikut bersama saya
tadi menjelaskan maksud kunjungan itu kepada tuan rumah, kami pun dihantar keluar untuk mengunjungi
yang sakit. Saya betul kaget, ketika melihat bahwa yang sakit itu, seorang pemuda
yang baru berusia 20-an, ternyata ditempatkan di tempat terpisah
dari rumah utama di sebuah
pondok kecil beratapkan rerumputan seperti layaknya rumah-rumah tradisional di wilayah itu.
Ketika masuk, kami bersalaman.
Tanpa melihat tindakan salaman sebagai hal yang luar biasa,
saya pun mengulurkan tangan untuk berjabatan
tangan. Ternyata bagi pemuda
yang sakit itu, jabatan tangan tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa. Saya menangkap hal ini
ketika sambil menangis, si pemuda
itu pun berkata, “Saya tidak ingat
lagi kapan terakhir kali orang berjabatan tangan dengan saya”.
Pengalaman kecil ini menyadarkan
saya, betapa kata dan tindakan
kita berakibat begitu besar terhadap
hidup orang lain. Betapa kata-kata dan jabatan
tangan yang kita buat, ternyata bisa menyentuh hati orang dan
bahkan memberi kedamaian.
Pada panggung politik internasional, saya teringat akan satu
jabatan tangan sangat bersejarah di tahun 1993 antara
Yitzhak Rabin, perdana menteri
Israel dan Yasser Arafat, pemimpin
Palestina waktu itu. Sampai hari ini, konflik Israel dan Palestina masih terus saja berlangsung.
Jabatan tangan terkenal itu memang sangat
simbolis untuk banyak orang. Tetapi saat itu,
ketika seluruh dunia menyaksikan jabatan tangan dua pemimpin itu
di layar televisi,
ada harapan bahwa para pemimpin
di wilayah itu akan duduk
di meja dialog untuk menyelesaikan konflik yang menggerogoti wilayah itu. Sayang
sekali bahwa jabatan tangan itu kemudian tidak
mempunyai efek berarti untuk penyelesaian
konflik Israel-Palestina karena tertutupnya pintu dialog dan diplomasi.
Hemat
saya, bersalaman atau berjabatan-tangan itu seperti password atau Personal Identification Number (PIN) atau
kunci. Kita membutuhkan
password untuk
mendapatkan akses ke e-mail kita atau berbagai
jenis account.
Kita membutuhkan PIN untuk mendapatkan akses untuk kartu bank. Sama seperti password dan PIN, bersalaman itu
mempunyai fungsi yang sama karena
memberikan kita akses kepada percakapan.
Begitu kita bersalaman dan menanyakan kabar satu sama
lain, percapakan dimulai. Seperti kunci, bersalaman membuka ruang hubungan kita dengan orang
lain dan memampukan kita untuk untuk
kemudian menyampaikan pesan-pesan kita. Bersalaman atau berjabatan-tangan membawa kita pada sebuah
dunia baru yakni dunia komunikasi
dengan orang lain.
Sebentar lagi kita akan merayakan Paskah. Ternyata salam itu
merupakan hal sangat hakiki dalam
pengalaman paskah. Dalam masa paskah, kita
biasa mendengarkan dua frase sangat
penting dalam kata-kata Yesus yakni “damai sejahtera
bagi kamu” dan “jangan takut”.
Kedua frase ini berhubungan erat karena berisikan
salam dan
juga pesan. Dengan mengucapkan salam dalam
ucapan “damai sejahtera bagi kamu”, Yesus membuka
ruang untuk para murid dan
sahabat-sahabatNya. Dalam ruangan
itu, sebuah hubungan baru terbentuk.
Hubungan itu memberikan identitas baru kepada para murid
dan sahabatNya. Kalau mati-Nya Yesus di kayu salib
memberikan identitas bahwa mereka adalah
mantan murid seorang nabi besar,
kini dengan kebangkitanNya, para murid ini mendapatkan
identitas baru yakni para murid nabi agung
yang bangkit. Itu berarti, salam itu
membangkitkan dan memberi roh, semangat
dan identitas baru untuk para
murid.
Begitu
juga frase kedua yakni “jangan
takut”. Presiden
AS Franklin D. Roosevelt pernah berkata
bahwa “satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah
ketakutan itu sendiri”. Ketakutan biasa membuat orang mengurung dan mengunci diri.
Ketakutan mematikan kreatifitas dan memenjarakan imajinasi kreatif. Kemajuan hampir sulit dicapai
kalau orang dikuasai ketakutan. Ketakutan itu seperti ruang
gelap tanpa cahaya. Ingat misalnya dalam kisah bagaimana para murid Yesus
suka mengunci diri karena mereka
takut akan
orang Yahudi setelah penangkapan dan kematian Yesus.
Salam dan peneguhan
Yesus agar mereka tidak takut ternyata
menembusi tembok ketakutan. Dengan menerima salam
Yesus, para murid ini dibebaskan
dari rasa takut. Mereka baru berani muncul
ke publik setelah kekuatan ketakutan ini dipatahkan
dengan menerima salam damai
Yesus.
Perlu dicatat juga bahwa
kekuatan salam
tergantung pula dari kemauan baik antara
orang yang memberi dan menerima salam.
Mungkin uluran jabatan tangan kita biasa-biasa
saja. Mungkin kita merasakannya
sebagai hal normal yang biasa kita lakukan.
Tetapi dengan tindakan sederhana itu, kita justru
membuka ruang dan jalan untuk
masuk dalam hidup orang lain. Terkadang orang mengirimkan pesan seperti “you have
made my day”. Hal sederhana yang kita buat bisa
jadi memberi kekuatan baru agar orang lain bangkit.
Kita yang memberi salam atau mengulurkan tangan dalam jabatan tangan
pun menimba kekuatan yang sama. Karena dengan
tindakan itu, kita mau masuk
dalam hubungan dengan orang lain sekaligus menegaskan bahwa adanya kita
tidak terlepas dari adanya orang
lain. Mungkin bisa dikatakan
sedikit filosofis bahwa “aku bersalaman,
maka aku ada”. Artinya, keterbukaan saya membuat saya dipahami
tetapi juga memungkin saya untuk memahami serta memberi hidup
baru untuk orang lain.
Ibu
Teresa pernah berkata, “Ketika seorang miskin mati karena
lapar, itu terjadi bukan karena
Tuhan tidak memperhatikannya. Itu terjadi
karena anda dan saya tidak
ingin memberikan kepada orang itu
apa yang dia butuhkan.” Mungkin kita pun bisa berkata,
“Ketika orang merasa terasing atau mengunci dirinya
dalam kesendirian, itu bukan karena
kekuatan ilahi tidak menjamahnya. Itu boleh jadi terjadi
karena kita tidak membuka ruang
baginya dalam kata-kata dan jabatan
tangan damai kita”.
Gabriel
Faimau
Bristol,
15 Maret 2010.